Jumat, 05 November 2010

Ingin miliki bisnis kuat, harus memiliki SDM yang kuat pula

Diposting oleh Titin Suria di 19.01 1 komentar
The Best CEO 2010 versi SWA
Agung Adiprasetyo: Bisnis Kuat, SDM Kuat
Jumat, 5 November 2010 | 09:19 WIB

Robert Adhi Ksp/KOMPAS

JAKARTA, KOMPAS.com — CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo (52) dinobatkan menjadi salah satu The Best CEO versi majalah SWA.
Saya ingin dikenang sebagai CEO yang dapat menciptakan orang-orang yang bangga pada profesinya, yang mengutamakan kejujuran, loyal, dan kuat di bidangnya, dan berstandar internasional. 
-- Agung Adiprasetyo.
Dalam acara penganugerahan yang diadakan di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (4/11/10) malam, Agung mengakui dalam tiga tahun terakhir ini perkembangan bisnis Kompas Gramedia sangat pesat.
Meskipun demikian, kata Agung, pesatnya bisnis Kompas Gramedia harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang juga kuat. Karena itulah, dia selaku CEO memfokuskan diri pada SDM. ”Percuma bisnis berkembang tetapi tidak disertai dengan SDM yang kuat,” kata Agung.
Majalah SWA melakukan riset terhadap 300 kandidat CEO yang dianggap layak mengikuti kompetisi The Best CEO 2010. Setelah diseleksi, tinggal 111 nama yang layak mengikuti kompetisi ini. Dan kompetisi ini dilakukan dengan melakukan survei online (e-mail) kepada 30-50 karyawan yang menjabat 1-4 level di bawah CEO.  Survei menggunakan kuesioner terstruktur yang berbasis pada The 4 Roles of Leadership dan Employee Commitment Index.
Agung Adiprasetyo dinilai mampu mengelola Kelompok Kompas Gramedua dengan bisnis yang makin terdiversifikasi. Di bawah kepemimpinan Agung, Kompas Gramedia tumbuh semakin solid, tak hanya berkutat di media. Agung dinilai sukses membangun lembaganya sebagai well managed company yang layak dijadikan benchmark bagi industrinya.
Agung Adiprasetyo menjadi CEO Terbaik kedua versi SWA, mengumpulkan poin 94,36, sedangkan posisi pertama diraih Yuslam Fauzi, CEO Bank Syariah Mandiri, yang meraih poin 96,44.
Di bawah Agung, Hasnul Suhaimi, CEO XL Axiata Tbk, mengumpulkan angka 93,53.
Setelah itu, berturut-turut CEO terbaik ke-4 hingga ke-10 adalah Suhartono (CEO Federal Internasional Finance), Eko Budiwiyono (CEP Jasindo), Wishnutama (CEO Trans TV), Joko Mogoginta (CEO Tiga Pilar Sejahtera Food), Rinaldi Firmansyah (CEO Telkom), Richard Budihadianto (CEO GMF Aseroasia), Rudi Borgenheimer (CEO Mercedes-Benz Indonesia).
Di bawah Agung Adiprasetyo, pertumbuhan bisnis Kompas Gramedia melesat. Jaringan toko buku (Gramedia) misalnya, kini tercatat 102. Jaringan hotel (Santika, Amaris, The Kayana, The Samaya) tercatat 33. Jaringan majalah kini 73, sedangkan jaringan surat kabar pada tahun 2010 tercatat 20.
Demikian pula jaringan tabloid, radio, media elektronik, percetakan, penerbit, industri, pendidikan, dan EO. Meski beberapa jumlahnya tetap, tetapi Agung mementingkan kualitas dan segmentasi audiens. Beberapa unit usaha dirampingkan demi efisiensi.
Agung juga menegaskan, ia lebih mengutamakan sumber daya manusia yang berkualitas. ”Banyak talenta, tetapi dibatasi birokrasi sehingga ibaratnya talenta-talenta itu mutiara dalam lumpur. Tugas kami mencari mutiara itu,” kata Agung.
CEO Kompas Gramedia itu menambahkan, dengan Key Performance Indicator  (KPI) yang dikaitkan dengan bonus tahunan, maka tak ada lagi istilah rajin malas sama saja.
Agung juga menekankan, jika perusahaan ingin langgeng hingga 100 tahun bahkan 1.000 tahun,  pengendalinya haruslah seorang profesional.
Direktur Eksekutif PT Grahawisata yang mengendalikan jaringan hotel Grup Santika, Lilik Oetama, mengatakan, Agung adalah individu yang punya komitmen tinggi dan berdedikasi terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, bahkan mau bekerja lebih keras sehingga memberikan hasil kerja dan kinerja terbaik terhadap organisasi.
”Mas Agung mampu menjaga kepercayaan yang diberikan para pemegang saham. Mas Agung mampu meneruskan filosofi para pendiri dan dia punya gaya sendiri memimpin perusahaan ini,” kata Lilik, putra pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama, yang juga Wakil CEO Kompas Gramedia.
”Saya ingin dikenang yang dapat mengembangkan warisan yang ditinggalkan pendiri Kompas Gramedia, mampu memuluskan masa transisi dari manajemen oleh pemilik menjadi perusahaan yang lebih profesional dan modern,” kata Agung.
”Saya juga ingin dikenang sebagai CEO yang dapat menciptakan orang-
orang yang bangga pada profesinya, yang mengutamakan kejujuran, loyal,
dan kuat di bidangnya, dan berstandar internasional,” kata Agung Adi-
prasetyo. (Robert Adhi Ksp)

Analisa:
 Membangun bisnis sudah merupakan hal yang sulit bagi seseorang, apalagi membangun bisnis yang kuat seperti yang tertulis pada artikel diatas. Didalam membangun bisnis baru saja, banyak orang merasa berat, termasuk untuk meninggalkan kariernya selama di perusahaan orang lain untuk berdikari. Banyak dari mereka yang sulit untuk meninggalkan tahap aman yang selama ini cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Memang benar adanya, apabila karier sudah memuncak membuat orang semakin hidup enak dan tidak ingin memusingkan diri dengan usaha sendiri namun perlu mereka ketahui bahwa hidup mandiri lebih baik daripada bekerja pada orang lain yang mana menyangkut batas usia produktif seseorang. Setibanya batas umur produktif orang itu, maka dia harus bersiap diri untuk keluar dari zona aman yang selama ini dirasakannya. Jadi hendaknya setiap orang mempersiapkan diri dari sekarang hingga masa mendatang, daripada hanya menunggu saat yang tidak diinginkan itu tiba tanpa ada persiapan yang matang karena bukan hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi termasuk orang yang ada disekitarnya yaitu keluarga yang dimilikinya.

Jika dihubungkan dengan artikel diatas, yakni tentang bisnis yang kuat harus memiliki SDM yang kuat, hal ini tidak tertuju pada siapa yang bebisnis, tetapi tentang sosok Agung Prasetyo yang terpilih dalam pemilihan CEO terbaik di Indonesia. CEO, singkatan bahasa Inggris dari "Chief Executive Officer" (Indonesia:Pejabat Eksekutif Tertinggi), adalah jabatan tertinggi di suatu perusahaan dan mempunyai tugas untuk memimpin suatu perusahaan dan bertanggung jawab untuk kestabilan perusahaan tersebut.Beliau bisa memimpin dengan baik sehinggai bisnis menjadi kuat dan terus bertahan, yang menurut pendapatnya pihak perusahaan selain memperhatikan seluruh unsur managementnya namun ada satu yang terpenting yaitu Sumber Daya Manusia yang menjalankan rencana perusahaan tersebut. 


Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas). Oleh sebab itu, orang-orang yang terlibat didalamnya harus dipoles sedimikian rupa sehingga kuat menghadapi kondisi seperti apapun. Hal ini dapat dilakukan dengan cara salah satunya adalah memberikan prestasi kepada mereka yang memang bisa diandalkan sehingga pihak lain dapat juga terpacu untuk bekerja lebih giat dan lebih baik lagi. 

Kamis, 04 November 2010

Dokter "Berbisnis", Obat Generik Tak Dilirik

Diposting oleh Titin Suria di 19.26 0 komentar

MEDAN, KOMPAS.com — Penggunaan obat generik dinilai belum menjadi "primadona" bagi para dokter, baik yang bekerja di sarana pelayanan pemerintah maupun swasta karena masih banyak di antara mereka yang hanya memberikan resep obat paten kepada pasien.
Pengamat kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, Senin di Medan, mengatakan, masih minimnya dokter yang memberikan resep obat generik kepada pasien patut disesali, padahal kualitas obat generik tidak kalah dibanding obat paten.

Menurutnya, kondisi ini harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama dinas kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selaku organisasi profesi yang menaungi para dokter. Padahal, Kemenkes juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

Ia menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan dokter enggan memberikan resep obat generik kepada pasien. Pertama, terkait hubungan bisnis antara dokter dan perusahaan farmasi. 

"Mungkin perusahaan farmasi memberikan insentif kepada dokter yang meresepkan obat paten produk mereka. Hubungan timbal-balik antara dokter dan perusahaan farmasi ini pula yang membuat mengapa obat generik tidak akan pernah menjadi ’primadona’," katanya.

Ada juga dokter yang memang "nakal" dengan mengatakan bahwa stok obat generik telah habis, padahal masih tersedia cukup banyak.

"Ya itu tadi penyebabnya. Semakin banyak dokter yang meresepkan obat paten kepada pasien, dia juga akan mendapat insentif lebih banyak dari perusahaan farmasi," terangnya.

Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh pemerintah agar obat generik tidak lagi menjadi obat nomor dua. Misalnya dengan membatasi peredaran obat paten di pasaran dan lebih memperbanyak peredaran obat generik. 

"Namun yang paling penting bagaimana agar pemerintah lebih gencar mempromosikan penggunaan obat generik kepada masyarakat. Masyarakat juga harus lebih berani meminta resep obat generik kepada dokter," ujarnya.


Analisa:
Kejadian ini sungguh benar-benar disayangkan telah terjadi pada kalangan yang sangat berperan di kehidupan manusia, yakni seorang dokter. Padahal sebelum menjabat, tak ada satupun yang terlewat untuk mengucapkan sumpahnya yang kurang lebih menurut wikipedia adalah sebagai berikut:

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbang an keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper taruhkan kehormatan diri saya.
Sungguh indah bukan isi daripada sumpah itu, namun setelah membaca artikel diatas, dapat diketahui bahwa kenyataan tidak sesuai dengan janji-janji yang diucapkan. Sama halnya dengan orang-orang yang sudah memperoleh impian besarnya, sudah biasa lupa akan janji dari mulutnya. Tugas dokter sebenarnya sangat mulia, namun mengapa bisa diarahkan ke bisnis begitu. Memang benar bahwa dokter juga manusia, yang ingin mengejar kenikmatan hidup. Tapi kiranya ingat juga akan tugas mulianya yakni menyelamatkan jiwa pasien yang ditangani.

Rabu, 20 Oktober 2010

SETAHUN SBY-BOEDIONO Desain Ulang Sistem Pendidikan!

Diposting oleh Titin Suria di 00.50 1 komentar
Rabu, 20 Oktober 2010 | 10:28 WIB
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Siswa kelas III SD Negeri Wonoagung 2 belajar di ruang kelas yang kondisinya memperihatinkan di Desa Wonoagung, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (9/10/2009).
JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem pendidikan nasional harus didesain ulang karena kenyataannya telah melahirkan kesenjangan akses pendidikan yang semakin lebar serta meninggalkan karakter bangsa. Padahal, tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan para pendiri bangsa adalah masyarakat yang cerdas, berkeadilan, serta berkarakter keindonesiaan.

Sejumlah praktisi, pengamat, dan sastrawan, Selasa (19/10/2010), menyatakan, setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kesenjangan terhadap akses pendidikan belum teratasi. Biaya pendidikan semakin mahal serta pendidikan untuk melahirkan generasi berkualitas secara keilmuan dengan karakter keindonesiaan yang kuat tercerabut dari desain pendidikan nasional.

Pengamat pendidikan, HAR Tilaar, mengatakan, acuan sistem pendidikan nasional yang berkiblat kepada negara-negara maju, terutama yang tergabung dalam Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), menciptakan kesenjangan akses dan mutu pendidikan yang semakin lebar antara sekolah yang berstandar pelayanan minimal, sekolah standar nasional, dan sekolah bertaraf internasional. ”Padahal, semestinya bangsa ini harus memperjuangkan pemerataan dan keadilan pendidikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Pendidikan selama puluhan tahun belum bisa menopang pengentasan kemiskinan. Kenyataannya, hampir 1,7 juta anak usia 6-15 tahun tidak tamat SMP. Padahal, mereka itu seharusnya mendapatkan hak dasar pendidikan sembilan tahun yang menjadi tanggung jawab negara.

Sebanyak 30 persen lulusan SMP tidak bisa melanjut pendidikan. Adapun lulusan SMA yang tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi hampir 60 persen.

Pendidikan itu tidak cuma untuk menciptakan anak pandai, tetapi juga harus membentuk warga yang berkarakter.
Bagikan beasiswa 

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, sulitnya siswa miskin menikmati pendidikan tinggi memang menjadi persoalan serius.

”Mata rantai kemiskinan di keluarga harus diputus dengan memberikan akses seluas-luasnya bagi anak miskin untuk sekolah dan kuliah,” kata Mohammad Nuh. Langkah yang ditempuh pemerintah, antara lain, memberikan berbagai beasiswa untuk siswa miskin serta mengalokasikan 20 persen dari kapasitas kursi perguruan tinggi negeri untuk mahasiswa miskin.

Muslimin Nasution, Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), mengatakan, arsitektur pendidikan telah salah mendesain pendidikan nasional. ”Pendidikan itu tidak cuma untuk menciptakan anak pandai, tetapi juga harus membentuk warga yang berkarakter,” ujarnya.

Sastrawan Acep Zamzam Noor mengatakan, pendidikan sekarang mengabaikan pembelajaran sastra. Padahal, sastra ikut memengaruhi pembentukan karakter siswa. Pada zaman penjajahan Belanda, setiap siswa harus membaca 25 buku sastra dalam setahun. ”Sekarang, belum tentu siswa membaca satu buku sastra dalam setahun,” ujar Acep dalam Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta. 
(ELN/IRE

Analisa :
Satu tahun sudah Presiden dan Wakilnya menjabat di negara Indonesia, tentu saja hal ini menjadi perayaan namun sekaligus mengajak semua untuk mereview ulang, apa yang telah dihasilkan selama ini, apakah negara Ini sudah menjadi lebih berkembang? apakah sudah bisa mulai dibanding-bandingkan dengan negara maju lainnya? Jawabannya adalah tentu saja belum, karena kurun waktu satu tahun dinilai cukup singkat untuk merehab suatu negara. Karena kemajuan negara ini mencakup akan banyak hal dan salah satunya adalah tentang pendidikan.
Pendidikan sangat berperan penting didalam suatu negara, dimana dengan pendidikan itu seseorang memperoleh ilmu, juga sangat membantu membangun karakter yang baik bagi orang itu. Dapat dibayangkan jika suatu negara berisi orang-orang yang berkarakter buruk, maka negara ini tidak akan bisa maju tentunya. Oleh karena itu, perlu dihimbau kepada pemimpin negara untuk memperhatikan sistem pendidikan Rakyat Indonesia saat ini, perlu didesain ulang suatu sistem yang dinilai belum efektif, yang mana selama setahun ini belum kelihatan perubahannya.
Menurut saya, pembenahan pendidikan di Indonesia dapat dimulai dari daerah yang lebih terpencil, kalau di kota-kota sudah dinilai lumayan, dimana masyarakat kota sudah menyadari tentang pentingnya pendidikan untuk meningkatkan mutu hidupnya. Banyak diantara masyarakat kota yang setelah tamat SMU/SMK berbondong-bondong mendaftarkan diri ke universitas favorit masing2. Lain keadaannya dengan masyarakat di daerah terpencil, hidup mereka untuk mempertahankan hidup saja dianggap sangat susah, apalagi memikirkan pendidikan. Hanya sebagian kecil dari orang tua mereka yang memilki pikiran untuk merubah nasib mereka dengan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi.
Selain di daerah terpencil, pemerintah juga perlu gesit dalam menangani korban-korban bencana alam yang sering menimpa Indonesia karena hal ini juga memperburuk pendidikan, yang mana semua sekolah-sekolah hancur ataupun sudah tidak layak untuk digunakan oleh para pelajar. Jika pemerintah bertele-tele akan hal ini, dapat dipastikan pendidikan di negara ini bisa semakin rusak. Semangat anak-anak akan merenggang untuk sekolah kembali jika sudah sekian lama tidak duduk di bangku sekolahnya, sifat malas itulah yang paling cepat menggerogoti negeri ini.
Maka dari itu, dihimbau agar Pemerintah dapat segera bertindak dengan desain sistem yang baru.. Untuk menuju Indonesia yang semakin maju dan berkembang terutama di dunia pendidikan.

Rabu, 29 September 2010

Sudah siapkah masyarakat menerima ini semua?

Diposting oleh Titin Suria di 01.43 2 komentar

Pertamina Kurangi Pasokan Premium Mulai 1 Oktober

Liputan6.com, Jakarta: Mulai 1 Oktober 2010, Pertamina akan mulai mengurangi pasokan premium sebesar delapan persen untuk seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum yang berada di Provinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. 15 hari kemudian, pengurangan pasokan premium diperluas ke seluruh SPBU di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Untuk menjalankan rencana itu, Menteri Perekonomian Hatta Radjasa menyerahkan keputusan tersebut kepada BPH Migas. Sebagai antisipasinya, menurut juru bicara Pertamina M. Harun, Pertamina akan menyiapkan tambahan pasok BBM nonsubsidi sebagai pengganti kekurangan.
Namun, anggota Komisi Energi DPR M. Syafrudin menyangsikan program tersebut. Pengurangan pasokan BBM bisa memberi dampak negatif bagi masyarakat.
Saat ini, di Pulau Jawa sendiri, baru sekitar 20 persen SPBU yang menjual bbm nonsubsidi, seperti pertamax. Sedangkan sebagian besar SPBU hanya menjual premium.(ULF)

Analisa:
Premium sudah mulai dikurangi, dimulai dari daerah di pulau Jawa. Tidak lama lagi akan tiba saatnya Pontianak juga turut merasakannya. Siapkah Anda? Jika ada tempat mencurahkan pro dan kontra dapat diyakinkan hanya segelintir masyarakat yang menyutujui hal tersebut. Bagaimana tidak? sudah makmurkah kehidupan di Indonesia ini? Mari kita analisa apa yang akan terjadi kedepannya :
1. Demo oleh masyarakat pasti akan terulang kembali, bagaimana tidak jika mereka dipaksa untuk menggunakan bahan bakar yang 1.5x lipat lebih mahal dari premium. Sejak kenaikan BBM beberapa tahun lalu saja sudah memaksa mereka untuk mengkredit motor, karena setelah dikalkulasikan lebih hemat naik motor daripada naik kendaraan umum (yang ongkosnya ikut naik karena kenaikan BBM tersebut)
Dan sekarang, mereka dipaksa untuk menggunakan misalnya pertamax.... bagaimana tidak memicu amarah?
subsidi pemerintah ditarik sebelum melihat kondisi masyarakatnya sendiri...
2. Dari segi bisnis, memang menguntungkan apabila masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengurangan subsidi ini dengan menggunakan bahan bakar non-subsidi, akan tetapi dapatkah keuntungan tersebut tersalurkan dengan baik. Jika tidak, kekecewaan masyarakat dapat berlipat ganda. Kesabaran setiap manusia ada batasnya dan semoga Pemerintah dapat bertindak bijaksana. Jangan hanya mengeluarkan keputusan, namun solusi juga sangat diharapkan masyarakat. Barulah Negara ini bisa berkembang seperti negara lain.
3. Lain halnya jika kenaikan tarif kehidupan diimbangi dengan kenaikan pendapatan yang diperoleh. Kedua hal tersebut harus selalu berimbang karena tidak mungkin kita hidup dalam pepatah "Besar Pasak daripada Tiang" Sekali lagi, semoga pemerintah Indonesia bertindak seadil-adilnya, demi kesejahteraan masyarakatnya.


Kamis, 16 September 2010

Bagaimana dengan Anda? Tahukah Anda siapa Kapolri RI kita? :)

Diposting oleh Titin Suria di 21.53 3 komentar
Suara Warga 
Kapolri Siapa Sih? 
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary 
Kamis, 16 September 2010 | 14:51 WIB




JAKARTA, KOMPAS.com — Sosok calon Kepala Kepolisian Negara RI yang akan menggantikan Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri masih menjadi sebuah penantian. Namun, pembicaraan mengenai sosok penggantinya menjadi perbincangan hangat.

Maklum saja, jabatan ini termasuk jabatan bergengsi. Sejumlah nama, seperti Imam Sudjarwo, Nanan Sukarna, dan Oegroseno, disebut-sebut menjadi kandidat kuat. Siapa sosok yang dianggap masyarakat pantas memimpin Polri?
Ternyata, nama-nama yang dijagokan itu tak cukup familiar di kalangan masyarakat awam. Bahkan, ada pula yang tak tahu siapa Kapolri saat ini. "Ah, saya enggak tahu siapa, Mbak. Nama Kapolri juga saya enggak tahu, ha-ha-ha," kata Winarno, tukang ojek yang ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (16/9/2010).


Nah lho, sosok Kapolri saja tak cukup dikenal di tengah masyarakat. "Saya cuma tahunya Polri pas teroris itu sama cicak buaya. Tetapi, saya enggak tahu masalahnya apa. Kalo ngapalin namanya enggak sanggup. Banyak banget pejabatnya," kata Winarno, saat ditanya soal sosok Kapolri.

Ketika disampaikan bahwa akan ada pergantian Kapolri, Winarno pun manggut-manggut. Lantas, apa harapan Winarno terhadap calon Kapolri baru? "Buat saya, siapa aja mau jadi Kapolri terserah deh. Yang penting negara aman, damai, dan tenteram, cukup," jawab bapak tiga anak ini lugas.

Ia juga berharap, di bawah kepemimpinan Kapolri baru, aparat kepolisian di lapangan lebih terarah. Menurut dia, tak jarang masih terlihat arogansi oknum anggota kepolisian saat melakukan tugas di jalanan. "Saya suka kesel kalo tiba-tiba ada pemeriksaan dadakan. Kalo surat lengkap, dicari-cari kesalahan. Keluar juga Rp 20.000. Buat saya, itu kan jumlah yang besar," ujarnya.

Analisa saya:
Jadi, tahukah Anda? Menurut saya, kebanyakan dari kita tidak mementingkan siapa yang menjabat, tetapi yang kita harapkan adalah kualitas beliau dalam menjabati jabatan penting tersebut karena tugas seorang Kapolri itu adalah melayani, melindungi, serta mengayomi negara Republik Indonesia agar selalu aman, damai, dan sejahtera. 

Mari kita melihat kembali kasus yang terjadi, mengapa Kapolri RI  Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri akan diganti?
Dalam dua bulan pertama masa jabatannya, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri membuat gebrakan yang cukup menyedot perhatian publik: operasi pemberantasan preman dan menindak delapan perwira tinggi Polri. Namun kemisteriusan terjadi, keberadaan Kapolri sama sekali tidak diketahui semua pihak, bermula saat pelantikan sejumlah pejabat baru di lingkungan Polri hendak dimulai. Sehingga acara yang sudah dipersiapkan lama itu ditunda. Pihak Mabes Polri beralasan, Kapolri dipanggil presiden. Tetapi anehnya, pihak Istana membantah. Wah apa yang terjadi? Siapa yang dapat kita percayai ? Mabes Polri atau pihak Istana? Sungguh membingungkan...

Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri itu menghilang pada saat Presiden akan melantik beberapa pejabat baru untuk menggantikan yang lama. Sungguh sangat aneh, untuk apa Beliau menghilang tanpa alasan yang jelas, ntah sakit ataupun tugas ke luar kota, yang seharusnya SBY sebagai presiden harus tau kemana kaki tangannya pergi, ini malah mengaku tidak tahu sama sekali. Hingga hari ini  (17 September 2010)  kasus ini belum terungkap. 
Jadi, menurut pendapat saya:
1. Seharusnya Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri segera muncul ke publik, menjelaskan kemana Ia pergi selama ini dan apa alasannya menghilang begitu saja. Seorang Kapolri harus mampu mempertanggungjawabkan apapun yang telah dilakukannya. Selama ini Ia telah menjalankan tugas mengamankan negeri, menangkap pihak2 yang tidak benar dalam menjalankan hukum RI, jadi apabila Ia berada pada posisi benar, mengapa harus sembunyi?
2. Sebagai Presiden RI, SBY harus tegas. Salah satu caranya dengan memberi peringatan kepada Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danur, apabila dalam jangka waktu yang ditentukan tidak muncul maka sanksi apa yang akan didapatkan. Menurut saya, seorang pemimpin negara berhak melakukan hal tersebut demi keamanan negeri Indonesia. Bagaimana keamanan dapat berjalan dengan baik, jika Kepala Polri nya hilang entah kemana? Siapa yang memiliki tanggung jawab menggantikan posisinya ketika Ia tidak ada? sebab tidak sembarangan orang dapat mewakili beliau memberi keputusan, hanya Presiden yang berhak. Namun, secara logika, perlukah seorang Presiden selalu turun tangan langsung dalam mengayomi masyarakatnya? Tentu tidak bukan?

Apa yang akan terjadi selanjutnya, kita tunggu berita terbarunya dan akan kita bahas di postingan selanjutnya..


 

Rabu, 15 September 2010

Olimpiade Internasional pertama kalinya di Indonesia

Diposting oleh Titin Suria di 00.35 6 komentar
Saya cukup merasa kaget sekaligus bangga ketika membaca artikel tentang ini, karena sungguh bukanlah hal yang mudah suatu negara menjadi tuan rumah Olimpiade Internasional. Selama ini kita cukup pesimis akan negara kita sendiri, dan ternyata hal itu merupakan kesalahan yang besar. Sekarang sudah terbukti, Indonesia telah bangkit dan tahun depan akan menjadi tuan rumah, hal ini berkat perjuangan generasi-generasi muda Indonesia, disertai dengan oknum-oknum yang berperan penting didalamnya, yang berperan menyalurkan mereka untuk mengikuti olimpiade di negara-negara lain.
JAKARTA, KOMPAS.com — Pekan depan, tepatnya 19-28 September 2010, Indonesia akan menjadi tuan rumah International Earth Science Olympiad (IESO) atau Olimpiade Ilmu Kebumian Tingkat Internasional ke-4. Pada perhelatan IESO pertama di Korea Selatan, Indonesia meraih empat medali perunggu, sedangkan pada IESO ke-3 di Taiwan, Indonesia meraih satu perak dan dua perunggu.

Pada IESO ke-4 tahun ini, tim Indonesia diharapkan mampu meningkatkan prestasinya yang akan diwakili oleh 8 siswa-siswi terbaiknya. Siswa-siswi yang akan memperkuat tim Indonesia itu antara lain Ardy Ramadhan (SMAN 48 Jakarta), Asri Oktavioni (SMAN 8 Jakarta), Ega Gita Prasastia (SMAN 2 Purwokerto), Fajar Febiani Amanda (SMAN 1 Banjarnegara), I Wayan Punia Raharja (SMAN 1 Amlapura), Kamil Ismail (MAN Insan Cendikia Serpong Banten), Mikey (SMAN 1 Pekanbaru), dan Rio Priandri Nugroho (SMAN 3 Yogyakarta).
Sementara itu, tim pembina yang akan mendampingi tim Indonesia tersebut adalah Saptono Budi Samodra dari Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Hakim L Malasan dari Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Joko Wiratmo dari Jurusan Meteorologi ITB, serta Warsito Atmojo dari Jurusan Oseanologi Universitas Diponegoro (Undip).
"Olimpiade internasional ini adalah yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia sehingga sangat penting bagi dunia pendidikan kita. Saya berharap kita semua bisa mendukung tim Indonesia untuk bisa berprestasi," ujar Kepala Seksi Bakat dan Prestasi Siswa Direktorat Pembinaan SMA Kemdiknas Suharlan kepada Kompas.com, Rabu (15/9/2010).

IESO adalah kompetisi siswa tingkat sekolah menengah atas (SMA) di bidang ilmu kebumian yang meliputi geologi, geofisika, oseanografi, meteorologi, serta astronomi. Tahun ini peserta IESO berasal dari 19 negara, yaitu AS, Filipina, India, Indonesia, Italia, Jepang, Kamboja, Korea, Kuwait, Maladewa, Nepal, Nigeria, Romania, Rusia, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Ukraina, dan satu negara observer, yakni Perancis. Masing-masing negara mengirimkan 4 siswa dan 2 mentor, total dari keseluruhan negara ada 77 siswa dan 33 mentor.

Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman semua tentang berita ini supaya kalian semua juga bisa terus mendukung generasi-generasi muda kita. Apalagi kita yang berstatus mahasiswa, semoga mendapat dorongan semangat untuk terus maju sehingga tidak mau kalah dari mereka.. Terus berjuang mengangkat nama bangsa.. Indonesia!!

Selasa, 31 Agustus 2010

Konflik apa yang sebenarnya terjadi antara........

Diposting oleh Titin Suria di 01.51 15 komentar




dan
  




Konflik antara kedua negara ini kerap kita dengar sehingga kita pun menjadi terbiasa dan menjadi sedikit cuek ketika mendengar berita tentang masalah ini. Mulai dari sengketa perbatasan yang pernah terjadi, penganiyaan tenaga kerja Indonesia oleh pihak Malaysia hingga beberapa budaya Indonesia (seperti batik, angklung, Reog Ponorogo) yang diklaim Malaysia sebagai miliknya. Apa  yang sebenarnya terjadi? Mengapa konflik seperti itu bisa terjadi? Bagaimana cara mengatasinya? Marilah kita bahas bersama...

Berdasarkan berita yang diedarkan 26/08/2010 16:19 oleh Liputan6.com, Jakarta: 
Salah satu permasalahan yang berlarut-larut hingga kini adalah sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang telah menjadi masalah hingga 35 tahun lamanya. Kedua negara mengklaim sebagai pemilik kedua pulau yang terletak di sekitar Kalimantan itu. Pada 2002, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Malaysia adalah pemilik sah pulau tersebut. Belum selesai dengan permasalahan itu, kini rakyat Indonesia kembali marah atas penangkapan yang dilakukan Malaysia terhadap tiga petugas Indonesia di perairan Indonesia.

Pada konflik ini, pastilah akan terbentuk 2 pihak yakni pro dan kontra terhadap kedua negara tersebut. Namun inti dari keseluruhan masalah yang ada, masing-masing negara tersebut adalah negara hukum. Mengapa tidak dilakukan penyelidikan secara detail dulu barulah dihakimi? Jika sering terjadi tindak anarkis masyarakat terus menerus, apa gunanya hukum itu? Masing-masing negara memiliki kesalahan, seperti:
1. Masyarakat Indonesia yang melakukan tindak anarkis seperti membakar bendera kebangsaan Malaysia bahkan melempar tinja di kedutaan besar Malaysia.
2. Pihak Malaysia bertindak kasar terhadap TKI, dan polisi Malaysia yang memperlakukan nelayan Indonesia seperti perilaku tindak kejahatan lainnya padahal belum ada jalur hukum yang membuktikannya.

Seandainya masing-masing masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi serta percaya dengan hukum yang berlaku di negaranya, maka kedua negara tersebut dapat saling menghargai. Apabila hukum tersebut adil dan lugas, masyarakat tidak perlu turun tangan sehingga timbul konflik-konflik yang sangat merugikan kedua negara ini.

Saat ini presiden negara kita SBY telah melayangkan surat perdamaian kepada PM Malaysia, namun surat tersebut dibalas dengan peringatan. Secara logika, bagaimana tidak? Seharusnya SBY harus bisa menertibkan masyarakatnya terlebih dahulu, dimana tindak-tindak anarkis yang dilakukan Rakyat Indonesia semakin menjadi-jadi dan mulai memancing amarah masyarakat Malaysia. Indonesia harus tegas dalam menangani tindak anarkis rakyatnya, mengajak masyarakat Indonesia untuk percaya pada hukum di Indonesia, bahwa hukum bisa mewakili mereka untuk menuntut apa yang menjadi hak Kita. 

 

 

Tin's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei